Rohil,kubangtapu.com – Suasana menyambut Hari Raya Idul Fitri yang seharusnya penuh sukacita, kini berubah menjadi awan mendung bagi ribuan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu di Kabupaten Rokan Hilir (Rohil).
Menjelang hari raya yang tinggal menghitung hari Sebanyak 2.467 pegawai kini berada dalam ketidakpastian setelah janji manis pemerintah daerah terkait Tunjangan Hari Raya (THR) Gaji ke-13 dan gaji dua bulan,tak kunjung menemui titik terang.
Kekecewaan ini bermula dari memori kolektif para pegawai saat penyerahan SK Pengangkatan pada 24 Desember 2025 lalu,di halaman kantor BPKAD.
Kala itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Rohil secara terbuka memberikan jaminan bahwa PPPK Paruh Waktu akan mendapatkan hak tunjangan yang setara.

”Waktu pembagian SK, Sekda sendiri yang memastikan kami dapat THR dan Gaji 13. Tapi nyatanya, sampai sekarang diam seribu bahasa. Kami merasa hanya diberi harapan hampa,” ujar, (13/03/2026) salah satu perwakilan PPPK Paruh Waktu dengan nada kecewa.
Selain persoalan THR yang belum jelas, para pegawai juga dihadapkan pada kenyataan pahit terkait besaran gaji.
Alih-alih mendapatkan kesejahteraan lebih baik setelah menyandang status PPPK, pendapatan mereka justru merosot tajam.
Sebelum PPPK: Pendapatan Rp1.500.000.
Setelah PPPK Paruh Waktu (Lulusan SMA): Gaji turun menjadi Rp1.000.000.
Defisit: Penurunan drastis sebesar Rp500.000 di tengah lonjakan harga pangan menjelang lebaran.
Tak hanya itu, hak gaji untuk bulan Februari dan Maret pun dilaporkan belum terbayarkan, menambah beban finansial yang kian mencekik dapur para abdi pemerintah ini.
Data Formasi yang Terdampak,nasib ribuan keluarga kini bergantung pada kebijakan Pemerintah Kabupaten Rohil. Adapun rincian 2.467 personel yang terdampak meliputi:
Tenaga Teknis: 1.659 Orang
Tenaga Kesehatan: 536 Orang
Tenaga Pendidikan: 272 Orang.
“bungkam” otoritas terkait semakin memperkeruh suasana. Saat dikonfirmasi, Sekda Rohil, H. Fauzi Efrizal, hanya memberikan jawaban singkat dan mengarahkan konfirmasi ke pihak lain, yang dinilai pegawai sebagai bentuk buang badan.
”Kami tidak butuh kata-kata manis lagi, kami butuh tanggung jawab nyata sebelum hari kemenangan tiba. Jangan biarkan lebaran tahun ini menjadi momen paling kelam bagi kami yang telah setia melayani Rokan Hilir,” pungkas perwakilan pegawai P3K-PW.
PPPK Paruh Waktu Rohil mendesak Pemerintah Kabupaten untuk segera merealisasikan janji lisan yang pernah diucapkan di depan publik.
Mereka berharap dedikasi tenaga kesehatan yang menjaga nyawa, guru yang mencerdaskan bangsa, dan tenaga teknis yang menggerakkan birokrasi tidak dibalas dengan pengabdiannya.
